Buka Mata Hati: Ramai-Ramai Membunuh Kebenaran Demi Hidup dalam Aib

doreng45.com – Tentara musuh memasuki sebuah desa. Mereka menodai kehormatan seluruh wanita, kecuali satu. Ia melawan, membunuh, dan memenggal kepala tentara yang hendak menodainya.

Setelah tentara musuh pergi, para wanita malang keluar dari rumah dengan busana compang-camping, menangis dan meratap. Hanya satu wanita yang berbeda. Ia keluar dengan pakaian rapat, tubuh bersimbah darah, dan kepala musuh di tangannya.

banner 336x280

Para wanita bertanya, “Bagaimana engkau bisa selamat dari bencana ini?”

Ia menjawab, “Bagiku hanya ada dua pilihan—berjuang membela diri atau mati menjaga kehormatan.”

Awalnya, mereka mengaguminya. Namun kekaguman itu tak berlangsung lama. Rasa takut merambat. Ketakutan akan pertanyaan suami mereka: “Mengapa kalian tidak bisa seperti dia? Bukankah lebih baik mati daripada ternoda?”

Ketakutan berubah menjadi keresahan kolektif. Dalam dorongan bawah sadar, mereka mengambil keputusan bersama—mereka membunuh wanita pemberani itu. Ya, membunuh kebenaran agar bisa tetap hidup dalam aib yang mereka anggap lebih aman.

Inilah potret realitas kita hari ini.

Banyak dari kita yang sudah terlalu lama hidup dalam kerusakan, kelemahan, dan kepalsuan. Maka ketika muncul satu suara jujur, satu sikap tegas, atau satu keberanian moral—reaksi pertama bukan kagum, tetapi ancaman. Kita mengecam, mencaci, mengucilkan, bahkan membunuh karakter mereka—agar kebusukan kolektif kita tidak tampak.

Padahal, mereka itulah cermin yang memaksa kita bercermin.

Sebelum segalanya terlambat, beranilah berpihak pada kebenaran, meski itu sunyi, asing, dan penuh risiko. Karena justru di sanalah harga diri dan masa depan negeri ini dipertaruhkan.

#IntrospeksiDiri
#IntrospeksiBangsa

Oleh: Letjen TNI (Purn) Kiki Syahnakri
            Tokoh militer Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *