Ritual Yadnya Karo Suku Tengger di Probolinggo, Tradisi Syukur dan Tolak Bala

Probolinggo, doreng45.com – Masyarakat Suku Tengger di Desa Sapikerep, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, menggelar ritual Hari Raya Yadnya Karo pada Minggu (2/8/2026). Tradisi adat yang telah diwariskan secara turun-temurun ini menjadi ungkapan rasa syukur atas kehidupan, hasil panen, kesehatan, dan keselamatan, sekaligus doa agar masyarakat senantiasa diberi kemakmuran dan dijauhkan dari berbagai bencana.

Sejak pagi, warga berdatangan mengenakan pakaian adat khas Tengger sambil membawa sesaji berisi aneka hasil bumi. Aroma dupa dan kemenyan memenuhi pelataran sanggar ketika doa-doa berbahasa Tengger mulai dipanjatkan. Prosesi berlangsung khidmat dengan iringan musik gamelan yang menambah suasana sakral.

banner 336x280

Pj Kepala Desa: Yadnya Karo Identitas Masyarakat Tengger
Penjabat (Pj) Kepala Desa Sapikerep, Agus Cahyo Raharjo, menyampaikan bahwa Yadnya Karo merupakan tradisi yang menjadi identitas masyarakat Tengger dan terus dilestarikan dari generasi ke generasi.

“Tujuannya agar warga Desa Sapikerep diberi kemakmuran, hasil bumi yang melimpah, dan dijauhkan dari segala marabahaya yang memang saat ini kerap mengintai warga Suku Tengger,” katanya.

Menurut Agus, rangkaian Yadnya Karo tidak hanya diisi dengan doa bersama, tetapi juga berbagai kesenian tradisional sebagai bagian dari ritual adat. “Selain melakukan doa bersama, sajian musik gamelan juga dimainkan mengiringi Tari Lengger. Bagi masyarakat Tengger, tarian ini bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari ritual yang mencerminkan penghormatan kepada leluhur sekaligus pelestarian seni budaya yang diwariskan secara turun-temurun,” ujarnya.

Romo Dukun Ngatik: Doa Berbahasa Tengger untuk Keberkahan
Sementara itu, Romo Dukun Ngatik menjelaskan bahwa doa yang dipanjatkan menggunakan bahasa Tengger mengandung harapan agar masyarakat memperoleh keberkahan, hasil bumi yang melimpah, serta perlindungan dari berbagai bencana.

“Makna Hari Raya Karo ini adalah selamatan desa. Harapannya seluruh masyarakat diberikan keberkahan, kemakmuran dari hasil bumi yang melimpah, serta dijauhkan dari segala marabahaya,” ujarnya.

Rangkaian Acara: Tumpeng Gede, Seshati, dan Tayub
Di kantor desa juga diadakan acara tumpeng gede yang dilanjutkan dengan seshati kepada masyarakat dan kesenian tayub. Turut hadir dalam kegiatan tersebut Camat Sukapura, Nur Rachmad Sholeh, S.STP, M.Si.

Yadnya Karo: Identitas Budaya di Tengah Pesona Bromo
Yadnya Karo menjadi salah satu tradisi penting masyarakat Tengger yang masih terjaga di tengah perkembangan pariwisata Gunung Bromo. Selain memiliki nilai spiritual, ritual ini juga menjadi wujud pelestarian budaya yang memperkuat identitas masyarakat adat di kawasan Tengger.

Bagi wisatawan, prosesi Yadnya Karo memberikan kesempatan untuk mengenal lebih dekat filosofi hidup masyarakat Tengger yang menjunjung tinggi rasa syukur, penghormatan kepada leluhur, semangat kebersamaan, dan keharmonisan dengan alam. Tradisi inilah yang menjadi salah satu kekayaan budaya yang melengkapi pesona wisata Gunung Bromo. (Kasan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *