Khofifah Kukuhkan Shodiqin sebagai Kaper BKKBN Jatim, Fokus Tekan Pernikahan Dini

Surabaya, doreng45.com – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa secara resmi mengukuhkan Shodiqin, S.H., M.M., sebagai Kepala Perwakilan (Kaper) Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Jawa Timur. Prosesi pengukuhan berlangsung khidmat di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, pada Kamis (29/5/2026).

Dalam amanatnya, Gubernur Khofifah menegaskan pentingnya memperkuat program kependudukan dan Keluarga Berencana (KB), sekaligus mengakselerasi penurunan angka stunting di seluruh 38 kabupaten dan kota di Jawa Timur. Ia menekankan bahwa upaya tersebut menjadi kunci untuk membangun generasi muda yang berkualitas dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

banner 336x280

Komitmen: KB Bukan Sekadar Batasi Jumlah Anak
Menanggapi arahan gubernur, Shodiqin menyampaikan komitmennya untuk mengubah paradigma masyarakat terkait program KB yang selama ini dianggap hanya untuk membatasi jumlah anak.

“Pesan yang disampaikan Ibu Gubernur sangat jelas, bahwa KB bukan tentang membatasi jumlah anak, melainkan mengatur jarak kelahiran dengan baik. Hal ini diharapkan mampu menekan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Jawa Timur ke tingkat yang serendah mungkin,” ujarnya usai pengukuhan.

Capaian Positif: TFR 1,9 dan Stunting Terendah Kedua
Menurut Shodiqin, kondisi demografi Jawa Timur saat ini menunjukkan perkembangan yang sangat positif, tercermin dari dua indikator makro utama. Total Fertility Rate (TFR) Provinsi ini tercatat sebesar 1,9, lebih rendah dibanding rata-rata nasional yang berada di angka 2,1. Selain itu, prevalensi stunting di Jatim berhasil ditekan hingga sekitar 14 persen, menjadikannya provinsi dengan tingkat stunting terendah kedua di Indonesia setelah Bali.

“Capaian ini menjadi tantangan besar bagi kami untuk terus mempertahankan dan bahkan menurunkannya lebih jauh. Kami tidak bisa mengizinkan angka stunting naik kembali. Oleh karena itu, BKKBN tidak dapat bekerja sendiri, melainkan harus memperkuat kolaborasi lintas sektor dengan seluruh OPD provinsi dan kabupaten/kota,” jelasnya.

Tantangan Tingginya Angka Pernikahan Dini di Kawasan Tapal Kuda
Shodiqin mengakui masih terdapat tantangan berat yang harus dihadapi, salah satunya adalah tingginya angka pernikahan dini yang terutama terjadi di Kawasan Tapal Kuda (meliputi Ponorogo, Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Kediri, dan Nganjuk). Faktor budaya, kondisi ekonomi, serta tradisi perjodohan yang dianggap kolot masih mengakar kuat.

“Di beberapa daerah, masih melekat anggapan bahwa dengan menikahkan anak di usia muda, tanggung jawab orang tua akan beralih sepenuhnya ke pasangan anak. Persepsi ini yang harus kita koreksi bersama melalui pendekatan yang tepat dan sesuai konteks lokal,” urainya.

Strategi Edukasi Masif Pendewasaan Usia Perkawinan
Sebagai langkah konkret, BKKBN Perwakilan Jatim siap meluncurkan strategi edukasi masif mengenai Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP) dan pembangunan ketahanan keluarga. Program ini akan menggandeng berbagai pihak, mulai dari Dinas Pendidikan se-Jatim, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga jaringan pondok pesantren.

“Kami sangat mengharapkan komitmen dan dukungan penuh dari seluruh pimpinan daerah di Jawa Timur agar program-program penguatan kualitas penduduk ini dapat berjalan optimal dan benar-benar menyentuh akar rumput di tingkat masyarakat,” pungkas Shodiqin. (Edy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *