JAKARTA, doreng45.com – Polemik kandungan nitrit dalam bahan makanan kembali memanas. Kali ini, Gabungan Pengusaha Pertanian dan Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia (GAPERKASINDO) angkat bicara dan membawa data yang meluruskan narasi yang selama ini beredar.
Ketua Umum GAPERKASINDO, Hasyari Nasution, menegaskan bahwa pupuk nitrogen atau urea bukan satu-satunya apalagi penyebab utama tingginya kandungan nitrit dalam pangan. Pernyataan ini disampaikan melalui keterangan tertulis pada Selasa (5/5), bahkan saat beliau tengah menunaikan ibadah Haji di Mekah.
Hasyari meluruskan fakta dengan angka yang konkret. Menurutnya, kontribusi pupuk nitrogen terhadap kandungan nitrit dalam bahan pangan jauh lebih kecil dari yang selama ini dipersepsikan publik.
“Persentase kandungan nitrit yang berasal dari pupuk nitrogen atau urea hanya sekitar 20 persen,” ujarnya.
Ia menambahkan, nitrit dari pupuk urea pun tidak secara langsung menyebabkan keracunan. Namun dalam kondisi tertentu, senyawa tersebut bisa berubah menjadi nitrosamin di dalam tubuh zat yang berpotensi bersifat karsinogenik dan perlu diwaspadai.
Alih-alih menyudutkan petani, Hasyari justru membela mereka dengan argumen yang logis. Petani, menurutnya, adalah pihak yang paling memahami dampak buruk penggunaan pupuk secara berlebihan.
“Petani sangat sadar bahwa penggunaan pupuk urea yang berlebihan dapat merusak tanaman. Jadi kecil kemungkinan mereka menggunakan pupuk secara berlebihan,” terang pria yang telah lebih dari 38 tahun menggeluti dunia pertanian dan perkebunan ini.
Penggunaan pupuk yang tidak tepat justru merugikan petani sendiri menghambat pertumbuhan tanaman, bahkan berujung gagal panen. Tidak ada petani yang mau merugi.
Lalu, apa yang sebenarnya menjadi faktor dominan? Hasyari menunjuk pada satu masalah struktural yang selama ini luput dari sorotan: lemahnya pengawasan dalam rantai pasok pangan.
Mulai dari infrastruktur yang tidak memadai, higiene dapur yang buruk, pengendalian mutu bahan baku yang lemah, proses pengolahan yang tidak standar, hingga distribusi produk akhir yang bermasalah semua itu jauh lebih berkontribusi terhadap tingginya nitrit dalam makanan dibanding penggunaan pupuk di ladang.
Hasyari tidak menahan diri untuk menyampaikan kritik. Ia secara terang-terangan menyayangkan pernyataan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) yang dinilai terlalu menyudutkan petani sebagai pihak yang bertanggung jawab atas masalah nitrit dalam pangan.
“Kami berharap pernyataan yang disampaikan dapat lebih bijak dan berbasis data yang komprehensif, agar tidak menimbulkan keresahan di kalangan petani,” tegasnya.
Petani, menurut Hasyari, sudah bekerja keras di bawah tekanan ekonomi yang tidak ringan. Menyalahkan mereka tanpa dasar data yang kuat hanya akan memperburuk kepercayaan diri pelaku pertanian yang tengah didorong pemerintah untuk mencapai swasembada pangan.
Sebagai bagian dari solusi jangka panjang, GAPERKASINDO mendorong penguatan penggunaan pupuk hayati, organik, dan semi-organik pilihan yang lebih ramah lingkungan dengan residu anorganik yang jauh lebih rendah.
Hasyari juga mengingatkan bahwa keterbatasan daya beli petani terhadap pupuk kimia secara tidak langsung sudah menjadi “rem alami” terhadap potensi penggunaan yang berlebihan.
Ia menutup pernyataannya dengan seruan kolaborasi yang kuat.
“Bangsa yang sehat, cerdas, dan berdaulat lahir dari pangan yang berasal dari sistem pertanian yang ramah lingkungan dan minim residu. Karena itu, mari kita bekerja sama untuk mewujudkannya,” pungkas Hasyari.
(HN/doreng45.com)










