Medan, doreng45.com – Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Komisariat Daerah Sumut-NAD menggelar diskusi kebangsaan bertemakan “Implementasi Nilai-nilai Pancasila Dalam Rangka Mewujudkan Persatuan dan Kesatuan Guna Terciptanya Situasi Kamtibmas yang Aman dan Kondusif” , Sabtu (7/3/2026).
Diskusi yang dihadiri puluhan kader PMKRI Sumut ini sekaligus meneguhkan komitmen PMKRI dalam memperkuat semangat kebangsaan, memperkokoh persatuan, serta meneguhkan kembali nilai-nilai Pancasila sebagai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara.
Ketua PMKRI Komisariat Daerah Sumut-NAD, Sintong Sinaga , dalam pemaparannya mengatakan, dalam situasi sosial yang terus berkembang dan diwarnai berbagai tantangan kebangsaan, penguatan nilai-nilai Pancasila menjadi hal yang sangat penting.
Nilai persatuan, toleransi, dan gotong royong perlu terus ditanamkan agar masyarakat tetap memiliki kesadaran bersama dalam menjaga keharmonisan kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Peran generasi muda, khususnya mahasiswa, dinilai sangat strategis dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan. Mahasiswa diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang tidak hanya kritis terhadap berbagai persoalan sosial, tetapi juga mampu menghadirkan solusi yang konstruktif bagi masyarakat,” jelasnya.
Sintong juga menyampaikan bahwa persoalan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas) bukan hanya peran kepolisian saja. Masyarakat secara umum memiliki peran yang sama dengan kepolisian karena yang dijaga adalah masyarakat itu sendiri.
“Peran mahasiswa dalam hal ini cukup krusial: bagaimana membawa pesan bahwa menjaga Kamtibmas itu bukan hanya tanggung jawab kepolisian saja. Menjaga Kamtibmas adalah kerja kolektif yang semua pihak punya peran yang sama ,” ungkapnya.
Sintong menambahkan, situasi geopolitik dunia yang sedang memanas saat ini karena adanya tensi antara AS dan Iran harus disikapi dengan bijak oleh masyarakat, termasuk mahasiswa. Yang perlu ditegaskan, perang yang terjadi di dunia saat ini bukan perang atau konflik agama, melainkan konflik kemanusiaan.
“Jangan sampai isu-isu ini masuk ke Indonesia menjadi isu konflik agama. Ini jadi tugas kita bersama untuk mengedukasi masyarakat terhadap situasi yang terjadi belakangan ini,” sebutnya.
Diskusi ini menegaskan peran strategis mahasiswa sebagai edukator di tengah masyarakat. Mereka tidak hanya dituntut cerdas secara akademik, tetapi juga mampu menerjemahkan isu-isu global dan nasional ke dalam bahasa yang mudah dipahami masyarakat, serta mengajak semua pihak untuk berperan aktif dalam menjaga keamanan dan ketertiban bersama.
Tim doreng45.com










