Kisah Cinta dan Integritas Bung Hatta: Mahar Buku hingga Guntingan Iklan Sepatu di Dompetnya

Jakarta, doreng45.com – Di balik ketenangannya sebagai “biksu revolusi”, Muhammad Hatta memiliki kisah cinta dan integritas yang menggetarkan. Sang proklamator pernah bersumpah tidak akan menikah sebelum Indonesia merdeka. Janji itu ia tepati.

Setelah kemerdekaan, di usia 43 tahun, Hatta melamar Rachmi Rahim (Yuke) yang baru berusia 19 tahun. Lamarannya disampaikan dengan cara khasnya: kaku namun penuh ketulusan.

banner 336x280

Pernikahan Sederhana di Tengah Revolusi

Pernikahan mereka digelar secara sederhana pada 18 November 1945 di sebuah villa di Megamendung, Bogor. Bung Karno hadir sebagai saksi. Di tengah suasana genting perang revolusi, Hatta membawa mahar yang tak biasa: buku karyanya sendiri berjudul “Alam Pikiran Yunani”.

Buku itu ditulisnya selama masa pembuangan di Banda Neira. Bagi Hatta, ilmu adalah harta termahal dan paling abadi yang bisa diberikan kepada istri tercintanya.

Kehidupan dengan Standar Integritas yang Tak Tergoyahkan

Menjadi istri Hatta bukanlah hal mudah. Rachmi harus hidup dengan standar kejujuran yang sangat ketat. Hatta terkenal sangat keras dalam memisahkan uang negara dan uang pribadi.

Suatu ketika, Rachmi menyisihkan uang belanja untuk membeli mesin jahit. Hatta pun menegurnya. Baginya, penghematan negara tidak boleh masuk ke kantong pribadi, meski untuk istri sendiri.

Guntingan Iklan Sepatu Impian yang Tak Pernah Terbeli

Kisah paling mengharukan adalah tentang sepatu impiannya. Hatta sangat menginginkan sepatu bermerek Bally, namun uang tabungannya tak pernah cukup.

Ia kemudian menggunting iklan sepatu itu dari koran dan menyimpannya di dompet, berharap suatu hari bisa membelinya. Namun, kebutuhan rumah tangga dan bantuan untuk kerabat selalu ia utamakan.

Hingga wafat pada 14 Maret 1980, guntingan iklan sepatu Bally yang lusuh itu masih tersimpan di dompetnya. Seorang mantan Wakil Presiden RI meninggal tanpa pernah mampu membeli sepatu impiannya.

Warisan yang Tak Ternilai: Nama Besar yang Bersih

Rachmi melepas kepergian suaminya dengan bangga. Ia tidak mewarisi harta melimpah, tetapi mewarisi nama besar seorang suami yang bersih tanpa cela.

Kisah cinta Hatta dan Rachmi mengajarkan satu hal langka: bahwa kehormatan dan integritas jauh lebih berharga daripada kemewahan. Mereka membuktikan bahwa kebahagiaan sejati bisa dibangun di atas kesederhanaan dan ketulusan.

Terima kasih, Bung Hatta. Telah mengajarkan arti sebenarnya menjadi seorang “PEJABAT”.

Sumber: Arsip Peristiwa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *