Komjen Chrynanda Dwilaksana Terima Kitab Doa untuk 79 Tokoh Nasional, Bahas Reformasi Polri hingga Pariwisata Bali

Jakarta, doreng45.com – Dialog mendalam terjalin dalam silaturahmi terbatas antara Ketua Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia (GMRI), Sri Eko Sriyanto Galgendu, dengan Komjen Pol. Prof. Dr. Chrynanda Dwilaksana M.Si di Perpustakaan Pusdiklat PTIK, Jakarta Selatan, Selasa (27/1/2026). Dalam pertemuan itu, Sri Eko menyerahkan “Kitab MA HA IS MA YA” yang berisi doa untuk 79 tokoh nasional yang akan dibacakan nonstop selama 20 jam dalam sebuah acara pada Agustus 2025 mendatang.

Komjen Chrynanda, yang kini menjabat sebagai Ketua Tim Transformasi Reformasi Polri berdasarkan Sprin No. Sprin/2749/IX/TUK.2.1/2025, menyambut baik pertemuan ini. Tokoh yang dikenal memiliki kecerdasan spiritual ini bahkan membacakan satu doa dari kitab tersebut, yang ditujukan untuk Margono Djojohadikoesoemo, dengan penuh khidmat sebelum membuka diskusi.

banner 336x280

Diskusi mengalir menyentuh berbagai hal, mencerminkan keluasan wawasan sang Komjen. Chrynanda Dwilaksana bukan hanya polisi karier lulusan Akpol 1989, tetapi juga seorang guru besar, penulis, dan pelukis gaya abstrak. Lukisannya bahkan pernah dibuat dalam kanvas panjang lebih dari 50 meter, sebagai medium perenungan dan ekspresi.

“Melukis bagi saya adalah cara mengosongkan pikiran dan mengekspresikan kata hati dalam narasi visual,” ujarnya, sebagaimana disampaikan dalam forum.

Kiprahnya di Polri malang-melintang, mulai dari jabatan di lalu lintas (seperti Dirlantas Polda Metro Jaya) hingga Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Lemdiklat) Polri. Bakat seni, budaya, serta kecerdasan spiritualnya yang lahir pada 3 Desember 1967 ini menjadi alasan masa tugasnya diperpanjang meski telah memasuki usia pensiun.

Dalam dialog, Komjen Chrynanda menyoroti pentingnya pembenahan adab di kalangan elite nasional. Menurutnya, terlalu banyak figur seperti “Buto Cakil dan Sengkuni” — metafora dari pewayangan untuk tokoh yang merepotkan — dalam dinamika bangsa.

Pembahasan juga menyentuh strategi kebudayaan dan ekonomi. Chrynanda memaparkan visinya tentang pariwisata Bali yang dapat menjadi sumber penghidupan tanpa menghilangkan identitas lokal.

“Penyajian yang otentik, didukung peningkatan kualitas SDM, akan memberi nilai tambah tidak hanya ekonomi, tetapi juga menjadi cermin peradaban bangsa yang lebih beradab di mata dunia,” paparnya.

Acara yang juga dihadiri oleh sejumlah tokoh seperti Raldi Doy dari PWI, Yoga, dan Brigjen Pol. Benny Iskandar Hasibuan ini berlangsung hangat sejak sore hingga menjelang tengah malam. Diskusi intens ini menunjukkan komitmen para tokoh dalam mencari solusi dan pencerahan bagi berbagai persoalan bangsa, mulai dari reformasi birokrasi, moralitas elite, hingga pembangunan berbasis kebudayaan.

Silaturahmi ini diharapkan dapat menjadi pemantik untuk kolaborasi dan gerakan positif dalam membangun negeri yang lebih beradab dan sejahtera.

Jacob Ereste

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *