Internal Golkar Sumut Kritik Opini Riza Fakhrumi Tahir Dinilai Rusuh Jelang Musda

Medan, doreng45.com – Opini Riza Fakhrumi Tahir mengenai “nasib Hendri Sitorus” kembali menuai kritik tajam dari kalangan internal Partai Golkar Sumatera Utara. Kali ini, Ir. Alpan Alpis, pengurus Golkar Deli Serdang dan Sekretaris DPC MKGR setempat, menilai tulisan tersebut bukan analisis objektif, melainkan upaya membangun kegaduhan politik menjelang Musyawarah Daerah (Musda).

“Ketika peluang politik di Musda tidak ada, sebagian orang memilih jalur opini untuk merusuh suasana. Ini bukan hal baru,” ujar Alpan, Kamis (8/1/2026).

banner 336x280

Opini Sarat Kepentingan dan Provokasi
Alpan menilai, narasi pesimistis yang dibangun Riza—yang dikenal sebagai loyalis Musa Rajekshah (Ijeck)—adalah upaya mempertahankan pengaruh lama yang menyempit seiring menguatnya arus regenerasi Golkar Sumut.

“Musda itu forum resmi. Yang menentukan bukan loyalitas lama atau suara opini, tapi mekanisme dan keputusan kolektif. Kalau tidak punya tiket maju, jangan mengubah politik jadi cerita horor,” sindirnya.

Ia menegaskan, hingga saat ini tidak ada keputusan resmi partai yang menyatakan akhir dari karier politik Hendri Yanto Sitorus. Karena itu, istilah “nasib makin tak jelas” disebutnya sebagai cacat berpikir politik.

“Golkar bukan panggung mistis. Tidak ada ‘nasib’, yang ada aturan. Kalau aturan tidak berpihak, jangan diganti dengan ramalan,” tegas Alpan.

Kritik terhadap Diksi dan Peran Senior
Lebih lanjut, Alpan menyoroti penggunaan diksi seperti “boneka” dan “oligarki” dalam opini Riza, yang dinilai lebih menyerupai provokasi ketimbang analisis berbasis fakta.

“Semakin keras istilah yang dipakai, semakin terlihat ketiadaan pijakan argumennya. Ini agitasi, bukan analisis,” tambahnya.

Ia juga mengingatkan posisi moral seorang senior. “Sudahlah Om Riza, di hari tua ini kita jangan kerap memberi hal-hal mistis dan menanamkan ketakutan pada generasi berikutnya. Senior itu mestinya meneduhkan, bukan menghantui,” ucap Alpan lugas.

Alpan menegaskan, regenerasi Golkar ditentukan oleh kerja nyata dan kepatuhan pada mekanisme, bukan opini pesimistis atau loyalitas masa lalu. “Musda bukan audisi opini. Yang lolos bukan yang paling ribut, tapi yang siap secara mekanisme,” pungkasnya.

Oleh: Tim