doreng45.com – Sebagai jurnalis yang berpindah ke ranah digital, saya meyakini media sosial adalah habitat baru untuk menyuarakan aspirasi. Di sini, saya mengamini dogma: “no viral, no justice”. Tanpa gema yang menggulung keangkuhan kekuasaan, tuntutan keadilan seringkali dianggap angin lalu.
Kini, teror terhadap pengguna media sosial—khususnya yang kritis—kian menjadi-jadi. Intimidasi fisik seperti pengiriman kepala babi busuk atau bangkai tikus kembali marak, meniru pola lama untuk membungkam insan pers. Karena pelakunya sulit diusut, teror semacam ini sering dianggap “kentut” dalam diskusi serius: mengganggu, busuk, dan dimaksudkan untuk mengacaukan fokus.
Celah dan Peluang di Dunia Digital
Ironisnya, teror justru menemukan celahnya di medium yang sama dengan yang digunakan para pejuang informasi. Kecepatan memviralkan berita atau opini, dilengkapi ilustrasi dan montase kreatif, adalah kekuatan sekaligus kelemahan. Ia bisa menyebarkan kebenaran, tetapi juga menjadi sasaran empuk bagi mereka yang ingin mematikan suara.
Seperti dilansir Tempo, pembungkaman kebebasan berpendapat semakin marak. Tidak hanya oleh aparat, tetapi juga oleh pengusaha yang praktik bisnisnya mulai terkuak—mulai dari izin usaha yang melabrak hukum hingga pembiaran kerusakan lingkungan.
Modus Teror yang Beragam
Sebagai pengguna media sosial, saya dan banyak rekan kerap menerima teror dalam berbagai bentuk: sabotase jaringan, kiriman massal konten porno, hingga rayuan proyek fiktif yang tujuannya mengalihkan perhatian dari isu penting. Ini adalah bagian dari “adat istiadat” tak tertulis bagi mereka yang ingin menutup skandal.
Pilihan Akhir: Pejuang atau Pecundang?
Pada akhirnya, teror ini berujung pada dua pilihan: jalan buntu atau negosiasi yang menggerus idealisme. Di titik inilah komitmen dan kecerdasan spiritual seorang pejuang diuji. Apakah kita tetap teguh pada nilai-nilai kebenaran yang berpihak pada rakyat, atau tergoda oleh kemudahan duniawi yang semu?
Realitas teror digital ini adalah ujian hakiki. Ia mengukur sejauh mana etika, moral, dan akhlak mulia—anugerah Tuhan dalam diri setiap insan—benar-benar hidup, bukan sekadar formalitas belaka. Bagi pejuang sejati, ini adalah medan tempur baru yang menuntut ketangguhan tidak hanya secara intelektual, tetapi juga secara spiritual.
Oleh: Jacob Ereste
Pecenongan, 5 Januari 2026










