Lumajang, doreng45.com – Kejadian berulang Banjir Lahar Gunung Semeru yang menyapu Dusun Sumbersari, Desa Supiturang, Kabupaten Lumajang pada 19 November 2025, menyisakan keprihatinan mendalam. Peristiwa ini memicu diskusi spontan di antara para pengurus Daerah XIII Keluarga Besar FKPPI Jawa Timur melalui grup WhatsApp, yang kemudian berubah menjadi aksi nyata penggalangan bantuan untuk korban bencana.
Penggalangan dana dilakukan secara internal, mengandalkan sumbangan dari Keluarga Besar FKPPI Jatim agar bantuan dapat cepat terealisasi. Koordinator wilayah 083 PD XIII KB FKPPI segera berkoordinasi dengan PC Lumajang dan mengajak PC Probolinggo untuk bergabung. Solidaritas tinggi terlihat saat kedua cabang ini berhasil mengumpulkan dana dari anggotanya dalam waktu singkat, dengan fokus pada kebutuhan mendesak seperti perlengkapan sekolah anak, kebutuhan wanita, dan peralatan rumah tangga.
Pada Minggu, 15 Desember 2025, rombongan “Panitia Kecil Peduli Semeru” yang dipimpin Sekretaris PD XIII KB FKPPI Jatim, RM Gunawan, bertolak dari Surabaya menuju Kodim 0821 Lumajang. Setelah bergabung dengan perwakilan PC Lumajang dan PC Probolinggo, mereka menggunakan truk bantuan dari Dandim untuk menuju lokasi.
Di Balai Desa Supiturang, rombongan disambut oleh Kepala Desa Nurul Yakin Pribadi. Bantuan semula akan diserahkan secara simbolis, namun atas usulan sang kepala desa, paket bantuan dibagikan langsung kepada warga agar rombongan dapat menyaksikan kondisi riil di lapangan. Dengan membawa daftar nama, Kepala Desa memastikan bantuan tepat sasaran.
Menyusuri lokasi bencana, perasaan campur aduk menyergap: sedih, prihatin, bingung, dan bersyukur. Bangunan-bangunan rusak parah, lahan pertanian hancur, dan bekas endapan lahar setinggi hampir satu meter masih memenuhi area. Meski beberapa rumah telah dibersihkan, banyak yang masih terbengkalai.
Seorang warga bercerita, “Saya dibantu Bapak Tentara dan relawan membersihkan pasir dari dalam rumah. Kalau sendirian, mungkin belum selesai karena banjir setinggi ini.” Ia dengan pilu menyebutkan tanaman cabainya yang sempat siap panen kini musnah total.
Di balik keprihatinan, ada rasa syukur karena tak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Warga telah memahami mitigasi bencana dengan baik, mengungsi sejak siang sebelum lahar menerjang pada sore hari. Namun, kondisi ini mengingatkan pada erupsi tahun 2021 yang lebih parah, dengan puluhan korban jiwa.
Masalah mendasar muncul kembali: Dusun Sumbersari berada di zona merah Gunung Semeru yang seharusnya tidak dihuni. Meski pemerintah telah menyiapkan rumah pengganti bagi korban erupsi 2021, persoalan mata pencaharian, khususnya bagi petani, belum terselesaikan. Kabarnya, sebagian warga terdampak tahun 2025 ini sebenarnya telah memiliki rumah di lokasi aman, tetapi memilih kembali ke rumah lama karena lahan pertanian mereka berada di zona merah. Tanpa lahan, kehidupan mereka terasa sulit.
Di lokasi baru, beberapa keluarga dapat bertahan dengan berdagang, tetapi bagi yang hanya mengandalkan cocok tanam, hidup menjadi sangat berat. Ketergantungan pada bantuan berkelanjutan bukanlah solusi. Masalah yang belum tuntas sejak erupsi sebelumnya ini membutuhkan perhatian dan solusi terintegrasi dari semua pihak.
Aksi solidaritas ini mungkin hanya setetes air di tengah lautan penderitaan, namun ia menyalakan harapan dan mengingatkan kita bahwa kebersamaan adalah fondasi terkuat dalam menghadapi musibah. Semoga esok hari membawa harapan yang lebih cerah bagi saudara-saudara kita di kaki Semeru.
Aan Diane (PD XIII KB FKPPI Jawa Timur)









